Jan

31

Seberapa Besarkah Mizan / Timbangan Amal Manusia?

muthalaah

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda ; Sesiapa yang menyaksikan jenazah serta turut serta menyembahyangkannya, maka dia mendapat 1 qhirat. Dan sesiapa menyaksikannya sehingga turut serta semasa mengkembumikannya, maka dia mendapat 2 qhirat. Lalu ditanya ; Apakah 2 qhirat itu ? Baginda menjawab : Pahala seperti 2 gunung yang besar. Muttafa’un ‘alaihi

Sebelum menjawab pertanyaan tentang besar mizan, mari kita sedikit menghubungkan “keindahan” ilmu fisika dan bahagianya memahami kehidupan karenanya (ilmu fisika tersebut).

Dalam Ilmu Fisika, kesetimbangan terjadi apabila gaya dan torsi pada benda nol, maka dalam hal ini benda tidak akan mengalami perubahan gerak maupun rotasi. Benda yang bergerak dengan kecepatan konstan memiliki momentum linear konstan. Artinya tidak ada gaya total yang bekerja pada benda itu atau total gaya bernilai nol.

Adakah hubungan antara hadits, prinsip fisika dan pertanyaan diatas?
Jawabannya adalah ada.
Ketika Alloh SWT memberikan pahala sebuah amalan sebesar gunung uhud, tentu timbangan manusia sudah dapat dipastikan jauh lebih besar dari gunung uhud. ketika Alloh SWT memberikan pahala sebesar dunia dan seisinya, maka tentunya mizan atau timbangan amal manusia lebih besar dari dunia dan seisinya. lebih gampangnya, bahwa mizan atau timbangan amal manusia adalah sebesar alam semesta (bumi dan langit).
Lalu, pertanyaannya, mungkinkah amalan yang kecil akan dapat mengalahkan amalan yang besar? sedekah seribu akan dapat mengalahkan sedekah satu milyar?
dengan prinsip kesetimbangan adalah iya…
kenapa? karena T = F x L
image130-1
mari kita lihat gambar diatas.
ada parameter atau unsur berat, tapi ada yang lebih penting yaitu unsur posisi…
ketika kita mempunyai seribu bahkan sejuta pahala sebesar gunung uhud (yang berjuta-juta kilogram berat), tetapi Alloh SWT meletakkan pada titik 0,000000000000001 dari titik nol, sedangkan besar timbangan itu sebesar langit dan bumi, apakah amal kita akan mengubah kedudukan timbangan kita? tentu tidak. namun ketika kita mempunyai pahala hanya sebesar satu kilogram, namun diletakkan diujung timbangan mizan (timbangan terbaik yang pernah ada), apakah hal itu akan mengubah kedudukan timbangan? jawabannya adalah iya..
lalu pertanyaannya, apa yang membuat amalan sholih kita diletakkan menjauh dari titik nol? jawabannya adalah kadar keikhlasan yang merupakan intisari dari perbuatan kita. sikap atau keadaan sabar yang menandakan keikhlasan itulah yang akan menggeser posisi timbangan amal kita, sehingga berpengaruh terhadap berat timbangan amal kita.
Klo sudah begini, insyaAlloh kita sudah tidak meragukan lagi KeMahaAdilan Alloh SWT. miskin dan kaya tidak ada masalah, karena ukuran itu adalah tingkat keikhlasan dan kesabaran kita dalam beramal skalih dan menjalani hidup yang penuh dengan ketaatan terhadap Alloh SWT.
Lalu bagaimana ciri-ciri orang-orang yang ikhlas..? dalam tataran praktek akan terlihat jelas, bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang dalam kesehariannya dipenuhi dengan kesabaran…
lalu apabila ada pertanyaan, apakah setiap ustad atau kyai pasti pahalanya besar dan masuk syurga, sedangkan orang biasa akan sulit masuk syurga?.. jawabannya adalah tergantung seberapa sabar mereka menjalani hidup/takdir Alloh SWT…
Subhanalloh… ternyata gampang sebenarnya memahami kehidupan ini…
“Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(Al-Baqarah [2] : 153)
Redi
31 Januari 2017
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>